Warna bukanlah masalah. Semangtnya masih sama dan semakon besar ketika
merah berubah menjadi hijau pada tahun 90. Ada semangat yang tidak
pernah padam. Ada keinginan yang sama setiap hari, setiap waktu, setiap
pertandingan. PSS menjadi juara! Menjadi elang jawa dengan cakar paling
tajam. Mejadi elang jawa dengan sayap paling lebar. Menjadi elang jawa
dengan mata yang mengincar lawannya tanpa ampun. Karena PSS adalah super
elang jawa. Saat merah berubah menjadi hijau, semangat ini semakin
menggebu, semangat yang semakin besar pada tahun 90.
Ya, warna kami kini hijau, kami bangga dengan warna kami saat ini. PSS
pasti juara. Itu yang selalu kami harapkan dari PSS. Harapan besar
selalu kami sematkan di super elang jawa. Terlihat bodoh memang bagi
mereka yang tidak mencintai tim kami. Kami hanyalah orang ndeso, orang
gila yang mendukung tim dengan prestasi redup. Pernah kami merasa
seperti menjadi tim yang juara ketika kami lolos dari degradasi. Bisa
kalian bayangkan bagaimana ketika mata berkaca, hati bergetar, dan
teriakan kami semakin lantang.
Berada di divisi kelas kedua tidak lalu membuat kami berhenti berteriak.
Selalu hadir di pertandingan kandang ataupun tandang itu kewajiban
kami. Ketika harus menghadiri pertandingan tandang kami rela lapar,
tidak peduli dengan berapa uang saku yang kami miliki. Yang terpenting
bagi kami adalah bisa masuk stadion dan mendukung PSS berlaga di kandang
lawan. Gembira sekali ketika bermain tandang dapat meraih poin. Hahaha.
Yang aneh lagi kalau pertandingan kandang, kami menyebutnya PMS. Suatu
sindrom yang meracuni kami ketika pertandingan akan berlangsung. Malam
sebelum pertandingan sindrom itu semakin menjadi, mata tidak dapat
dipejamkan dan harap esok segera datang.
Ada rindu yang selalu terjawab di akhir pekan. Rindu untuk bertemu Super
Elang Jawa. Kami punya keinginan yang sama, hadir di stadion secepat
mungkin. Memastikan kami tidak terlambat datang. Kami ingin hadir di
sana, memastikan pemain keluar dengan wajah kepastian, kemenangan!
Jangan mencoba menghentikan kami karena akan percuma. Semangat ini sudah
tidak dapat diperkecil lagi. Justru semakin besar di tiap pertandingan
yang mengantar Super Elang Jawa menuju kejayaannya. Cinta kami semakin
besar, kerinduan kami semakin dalam, semangat ini tak pernah padam!
Pernah lho kami akan dukung tim kami tapi kami tidak diijinkan masuk.
Alasannya tribun tempat kami beribadah dipakai untuk tim tamu. Mereka
pikir kami akan patah. Tidak semudah itu bung. Kami memutuskan untuk
tetap bernyanyi di luar stadion. Dengan semangat yang tetap menggebu.
Karena memang begitulah cara kami. Memang itu yang bisa kami lakukan.
Berteriak mendukung tim yang terpatri di hati kami. PSS oh PSS! Tim
medioker yang membuat banyak orang menjadi gila. Haha
Kami tidak peduli dengan siapapun yang tidak menyukai kami. Kami punya
atmosfer sendiri dibelakang gawang selatan, tempat kami berdiri, tempat
kami memutus pita-pita suara dengan nyanyian dan teriakan yang lantang:
PSS! Kami tidak peduli dengan siapapun yang tidak menyukai kami. Ada
rantai yang erat mengikat kami di sini. Ada jabat tangan dari mereka.
Dari para pendahulu yang tidak pernah lelah bermimpi tentang kejayaan.
Ada senyum yang tersimpul saat mereka memasuki usia kepala 3 dan melihat
kami menyanyi sama kerasnya dengan mereka. Senyum kami tersimpul sama
melihat mereka yang meneteskan keringatnya melawan kelelahan hanya untuk
bertahan sampai akhir pertandingan: kemenangan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar